Adi, si bocah desa dari Kecamatan Ledokombo, adalah salah satu legenda kenaifan cinta di kalangan kami sejak SMP kelas 1. Dia ini tipe cowok yang selalu kekinian. Ketika musim mainan Tamiya booming, Adi punya sirkuit sendiri di rumahnya. Saking serunya, kita semua rela menempuh jarak 20 kilometer cuma buat ikut main Tamiya di sana. Bayangin, naik sepeda motor hampir setengah jam demi ngebutin mobil-mobilan. Itu kerja keras banget, bro!
Tapi masalahnya, rumah Adi terlalu jauh. Jadi akhirnya dia ngekost di rumah Risan. Nah, Risan ini dewasa banget soal urusan cinta. Sejak SD dia udah pacaran sama kakak kelasnya. Pas SMP? Makin gila! Dia berhasil memacari kakak kelas yang nantinya bakal jadi pacar Maliq pas SMA. Singkat cerita, Risan adalah pakar cinta versi anak sekolah. Sayangnya, strategi cintanya nggak cocok buat Adi.
Adi ini kurus kering bak sumpit goreng. Kalau dia lewat, orang-orang langsung mikir, “Eh, itu angin apa orang?” Ya gimana cewek mau tertarik kalau lihat dia aja udah kayak lihat tiang listrik yang kelaparan? Target utamanya waktu itu adalah Anti, cewek cantik angkatan kita. Cantiknya Anti tuh level dewa. Nggak heran kalau banyak cowok rebutan buat deketin dia.
Tapi Adi? Oh boy, dia ini maha kreatif dalam hal gagal move on. Gara-gara frustasi ditolak terus, dia malah melukai tangannya sendiri dengan cara menuliskan nama Anti pakai silet rautan pensil. Bukan cuma itu, setiap kali pulang-pergi sekolah lewat rumah Anti, motornya seperti punya otak sendiri. Meski Adi niatnya lurus terus, motornya selalu belok sendiri ke rumah Anti. Kayaknya motor itu lebih paham perasaan Adi daripada dirinya sendiri.
Singkat cerita, Adi nggak lanjut di SMA Kalisat. Dia pindah ke STM Jember. Di sana, dia sempat pacaran liar sama beberapa wanita. Tapi cintanya ke Anti? Tetap abadi kayak lagu dangdut lawas. Begitulah Adi dia juga mencitai club sepak bola Juventus bahkan di masa bapuknya saat ini cintanya tetap abadi. Sampai masa dewasa tiba, Anti akhirnya menikah dengan laki-laki idamannya. Dan Adi? Dia datang ke resepsi pernikahan Anti dengan wajah lesu kayak orang habis ditipu tukang bakso.
Anti tetap memperlakukan Adi sebagai teman baik. Tapi ibunya Anti nggak bisa nahan tangis. Ibu Yanti mendekati Adi sambil berkata dalam bahasa Jawa,
“Seng sabar yo, le.” Artinya, “Yang sabar ya, nak.”
Adi cuma bisa menunduk bag kalah perang di film-film. Mukanya kayak gabungan antara pohon pisang yang layu dan es krim yang meleleh. Dia udah dimabuk cinta sejak SMP, tapi hasilnya? Nihil. Bahkan kalau ada olimpiade gagal move on, Adi pasti juara umum se-Jawa Timur.
Dan cerita ini jadi pelajaran buat kita semua: kalau gebetanmu udah nikah sama orang lain, jangan sedih. Move on aja. Toh, masih banyak Wanita diluar sana.